Jembatan Hancur akibat Erupsi Semeru, Wisudawan Terbaik Sipil Rancang Ulang Jembatan Sungai Kobokan dengan Tipe Pelengkung yang Estetik 

Jembatan Hancur akibat Erupsi Semeru, Wisudawan Terbaik Sipil Rancang Ulang Jembatan Sungai Kobokan dengan Tipe Pelengkung yang Estetik 

Kadek Wahyu Adi Pratama lulusan terbaik Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang, wisuda ke 68 tahun 2022. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Tentunya kita masih ingat erupsi Gunung Semeru Desember 2021 silam, yang mengakibatkan dampak kerusakan sarana dan prasarana di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Bahkan terjangan lahar dingin Gunung Semeru memutuskan jembatan Sungai Besuk Kobokan yang menghubungan kedua kabupaten di Jawa Timur tersebut.

Jembatan ini awalnya memiliki lebar 9 meter, dan membentang 130 meter di atas Sungai Besuk Kobokan dengan konstruksi beton bertulang. Putusnya jembatan tersebut menggugah Kadek Wahyu Adi Pratama untuk mendesain ulang struktur atas jembatan dengan konstruksi baja tipe pelengkung (through arch). Dengan memanfaatkan box baja menggunakan metode LRFD. Jembatan pelengkung adalah jembatan dengan struktur setengah lingkaran dimana kedua ujungnya bertumpu pada abutmen.

“Saya mendesain ulang menggunakan pelengkung di atas lantai kendaraan menggunakan box baja. Eksisting jembatan awalnya menggunakan beton bertulang di bawah lantai kendaraan,” ujar Kadek saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang.

Kadek merupakan mahasiswa Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mahasiswa asal Bali ini meraih IPK 3,77 dan menjadi wisudawan terbaik di prodinya.

Baca juga : Kaji Gempa di Yunani Bawa Dosen Sipil ITN Malang Raih Doktor dari Taiwan

Untuk membuat jembatan, box baja didesain setinggi 22 meter, lebar jembatan 9 meter, jarak antar gelagar memanjang 1,75 meter, serta jarak antar gelagar melintang 5 meter. Hasil dari perencanaan yang telah dilakukan menggunakan metode Load and Resistance Factor Design (LRFD).

Menurut Kadek, dipilihnya struktur atas jembatan pelengkung, karena perencanaan pelengkung di bawah lantai kendaraan sangat sulit diterapkan di lapangan. Sedangkan pelengkung di atas perencanaannya lebih mudah. Apalagi jembatan pelengkung secara estetika lebih indah dari pada jembatan biasa.

Desain Sungai Besuk Kobokan karya Kadek Wahyu Adi Pratama wisudawan terbaik Teknik Sipil S-1 ITN Malang.

“Tipenya (jembatan) terinspirasi dari jembatan Kalikuto di Semarang yang memiliki sisi estetika dan artistik. Secara struktur kokoh, dan juga indah dilihat,” imbuh pemenang juara 2 6th Green Concrete Competition Universitas Negeri Malang 2021 ini.

Dijelaskan Kadek, fungsi pelengkung untuk mengurangi terjadinya lentur terhadap jembatan, sehingga efisien dalam penggunaan bahan. Karena, jika jembatan melentur otomatis harus membesarkan dimensi materialnya, agar jembatan tetap kokoh.

“Jadi, pemborosan material kalau tidak memakai pelengkung. Sebenarnya jembatan pelengkung ada beberapa variasi. Semuanya efektif diterapkan pada jembatan bentang panjang,” katanya.

Penggunaan material box dipilih karena lebih stabil dari pada profil baja lain. Karena jembatan pelengkung jika dimodelkan semua gaya akan mengalami gaya tekan. Jika menggunakan profil box akan lebih stabil menerima gaya tersebut daripada profil baja WF yang mudah menekuk.

“Material box juga lebih memberikan kesan estetika dan monumental. Pengendara yang lewat bisa menikmati arsitekturnya,” tandas Kadek, yang lulus dibawah bimbingan skripsi Mohammad Erfan, ST., MT, dan Vega Aditama, ST.,MT.

Baca juga : Himakpa ITN Malang Salurkan Bantuan untuk Korban Erupsi Gunung Semeru

Putra pasangan Made Suastika, dan Ni Nyoman Suardani ini tidak menyangka bisa menjadi salah satu wisudawan terbaik ITN Malang. Pasalnya, ia tidak mempunyai dasar dan pengetahuan tentang jurusan teknik sipil. Mengikuti teman-temannya Kadek masuk ke ITN Malang. Makanya, saat semester satu Kadek sempat kaget. Bukan soal mata kuliah menghitung, melainkan teori yang membuatnya kaget dan perlu lebih banyak beradaptasi.

“Saya juga ada pengalaman tidak tidur satu hari gara-gara ada deadline mengerjakan tugas yang harus segera dikumpulkan. Karena tugasnya banyak dan harus lekas selesai. Lumayan sulit juga bagi kami mahasiswa awal semester satu,” kenangnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang

Kadek Wahyu Adi Pratama lulusan terbaik Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang, wisuda ke 68 tahun 2022. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Tentunya kita masih ingat erupsi Gunung Semeru Desember 2021 silam, yang mengakibatkan dampak kerusakan sarana dan prasarana di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Bahkan terjangan lahar dingin Gunung Semeru memutuskan jembatan Sungai Besuk Kobokan yang menghubungan kedua kabupaten di Jawa Timur tersebut.

Jembatan ini awalnya memiliki lebar 9 meter, dan membentang 130 meter di atas Sungai Besuk Kobokan dengan konstruksi beton bertulang. Putusnya jembatan tersebut menggugah Kadek Wahyu Adi Pratama untuk mendesain ulang struktur atas jembatan dengan konstruksi baja tipe pelengkung (through arch). Dengan memanfaatkan box baja menggunakan metode LRFD. Jembatan pelengkung adalah jembatan dengan struktur setengah lingkaran dimana kedua ujungnya bertumpu pada abutmen.

“Saya mendesain ulang menggunakan pelengkung di atas lantai kendaraan menggunakan box baja. Eksisting jembatan awalnya menggunakan beton bertulang di bawah lantai kendaraan,” ujar Kadek saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang.

Kadek merupakan mahasiswa Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mahasiswa asal Bali ini meraih IPK 3,77 dan menjadi wisudawan terbaik di prodinya.

Baca juga : Kaji Gempa di Yunani Bawa Dosen Sipil ITN Malang Raih Doktor dari Taiwan

Untuk membuat jembatan, box baja didesain setinggi 22 meter, lebar jembatan 9 meter, jarak antar gelagar memanjang 1,75 meter, serta jarak antar gelagar melintang 5 meter. Hasil dari perencanaan yang telah dilakukan menggunakan metode Load and Resistance Factor Design (LRFD).

Menurut Kadek, dipilihnya struktur atas jembatan pelengkung, karena perencanaan pelengkung di bawah lantai kendaraan sangat sulit diterapkan di lapangan. Sedangkan pelengkung di atas perencanaannya lebih mudah. Apalagi jembatan pelengkung secara estetika lebih indah dari pada jembatan biasa.

Desain Sungai Besuk Kobokan karya Kadek Wahyu Adi Pratama wisudawan terbaik Teknik Sipil S-1 ITN Malang.

“Tipenya (jembatan) terinspirasi dari jembatan Kalikuto di Semarang yang memiliki sisi estetika dan artistik. Secara struktur kokoh, dan juga indah dilihat,” imbuh pemenang juara 2 6th Green Concrete Competition Universitas Negeri Malang 2021 ini.

Dijelaskan Kadek, fungsi pelengkung untuk mengurangi terjadinya lentur terhadap jembatan, sehingga efisien dalam penggunaan bahan. Karena, jika jembatan melentur otomatis harus membesarkan dimensi materialnya, agar jembatan tetap kokoh.

“Jadi, pemborosan material kalau tidak memakai pelengkung. Sebenarnya jembatan pelengkung ada beberapa variasi. Semuanya efektif diterapkan pada jembatan bentang panjang,” katanya.

Penggunaan material box dipilih karena lebih stabil dari pada profil baja lain. Karena jembatan pelengkung jika dimodelkan semua gaya akan mengalami gaya tekan. Jika menggunakan profil box akan lebih stabil menerima gaya tersebut daripada profil baja WF yang mudah menekuk.

“Material box juga lebih memberikan kesan estetika dan monumental. Pengendara yang lewat bisa menikmati arsitekturnya,” tandas Kadek, yang lulus dibawah bimbingan skripsi Mohammad Erfan, ST., MT, dan Vega Aditama, ST.,MT.

Baca juga : Himakpa ITN Malang Salurkan Bantuan untuk Korban Erupsi Gunung Semeru

Putra pasangan Made Suastika, dan Ni Nyoman Suardani ini tidak menyangka bisa menjadi salah satu wisudawan terbaik ITN Malang. Pasalnya, ia tidak mempunyai dasar dan pengetahuan tentang jurusan teknik sipil. Mengikuti teman-temannya Kadek masuk ke ITN Malang. Makanya, saat semester satu Kadek sempat kaget. Bukan soal mata kuliah menghitung, melainkan teori yang membuatnya kaget dan perlu lebih banyak beradaptasi.

“Saya juga ada pengalaman tidak tidur satu hari gara-gara ada deadline mengerjakan tugas yang harus segera dikumpulkan. Karena tugasnya banyak dan harus lekas selesai. Lumayan sulit juga bagi kami mahasiswa awal semester satu,” kenangnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *